Welcome TV River Sunset adalah sebuah kisah fiktif berlatar Perang Dunia II yang memadukan tragedi sejarah dengan kepekaan emosional khas drama China. Berlatar di sebuah kota kecil di tepi sungai besar di Asia Timur, cerita ini tidak hanya menyoroti dentuman senjata dan strategi perang, tetapi juga luka batin, cinta terpendam, kesetiaan, serta pengorbanan yang sunyi. Seperti banyak drama sejarah China, River Sunset menjadikan manusia dan perasaannya sebagai pusat narasi, bukan sekadar peristiwa besar dalam buku sejarah.
Perang Dunia II dalam River Sunset digambarkan sebagai badai yang perlahan datang, merusak kehidupan warga biasa yang sebelumnya damai. Sungai yang mengalir tenang menjadi simbol waktu dan takdir ia menyaksikan perubahan musim, kepergian orang-orang tercinta, dan darah yang akhirnya mencemari airnya. Senja, yang selalu hadir di setiap bab penting cerita, melambangkan batas antara harapan dan keputusasaan, hidup dan mati. Inilah pendekatan puitis yang sering ditemukan dalam drama China, di mana alam menjadi saksi bisu penderitaan manusia.
Tokoh utama River Sunset adalah Liang Wen, seorang pemuda cerdas yang bercita-cita menjadi guru sastra. Hidupnya berubah ketika invasi militer memaksanya meninggalkan buku dan pena, lalu memegang senjata. Liang Wen bukanlah pahlawan tanpa cela; ia ragu, takut, dan sering dihantui pertanyaan moral tentang membunuh demi negara. Karakterisasi seperti ini sangat khas drama China, yang kerap menampilkan pahlawan dengan konflik batin mendalam, bukan sosok hitam-putih.
Di sisi lain, ada karakter perempuan kuat bernama Shen Yue, seorang perawat yang bekerja di rumah sakit darurat dekat sungai. Shen Yue mewakili sosok wanita dalam drama China modern: lembut namun tegar, penuh empati tetapi berani mengambil keputusan sulit. Hubungannya dengan Liang Wen berkembang perlahan, penuh tatapan diam dan percakapan singkat, karena perang tidak memberi ruang bagi romansa yang berlebihan. Justru dalam keterbatasan itulah emosi terasa lebih dalam dan menyakitkan.
Sentuhan khas drama China dalam River Sunset juga tampak dari penggunaan dialog yang sarat makna filosofis. Percakapan antar tokoh sering kali membahas takdir, kesetiaan, dan arti “rumah”. Bagi Liang Wen, rumah bukan lagi bangunan di tepi sungai, melainkan orang-orang yang ia lindungi. Bagi Shen Yue, rumah adalah tempat di mana masih ada kehidupan yang bisa diselamatkan, meski di tengah kehancuran.
Berbeda dari kisah perang Barat yang sering menonjolkan kemenangan dan strategi militer, River Sunset lebih fokus pada harga yang harus dibayar atas kemenangan itu. Adegan pertempuran digambarkan singkat namun brutal, lalu diikuti oleh keheningan panjang tubuh-tubuh bergelimpangan, surat yang tak pernah sampai, dan senja yang kembali jatuh di atas sungai. Keheningan inilah yang menjadi kekuatan emosional cerita, selaras dengan gaya drama China yang menghargai ruang kosong sebagai bagian dari narasi.
Elemen budaya China juga terasa kuat melalui simbolisme. Sungai melambangkan aliran sejarah yang tak bisa dihentikan, sementara senja melambangkan momen refleksi sebelum kegelapan. Bahkan makanan sederhana, seperti semangkuk bubur hangat yang dibagi dua, menjadi simbol kasih sayang dan harapan. Detail-detail kecil ini membuat River Sunset terasa intim dan membumi, meskipun berlatar peristiwa global yang besar.
Pada akhirnya, River Sunset bukan hanya tentang Perang Dunia II, tetapi tentang bagaimana manusia bertahan secara emosional di tengah kehancuran. Kisah ini mengajak pembaca atau penonton untuk melihat perang dari sudut pandang orang-orang kecil yang jarang tercatat dalam sejarah. Dengan sentuhan khas drama China puitis, emosional, dan sarat makna River Sunset menjadi pengingat bahwa di balik setiap perang besar, selalu ada kisah cinta, kehilangan, dan harapan yang perlahan tenggelam bersama matahari di ufuk senja.