Welcome TV Indonesia sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan beragam identitas agama, bahasa, budaya, dan etnis. Di antara mozaik tersebut, komunitas Tionghoa-Muslim menghadirkan kisah yang unik sekaligus penting: kisah tentang pertemuan tradisi leluhur Tionghoa dengan nilai-nilai Islam yang dianut, serta dinamika sosial yang menyertainya. Dalam dunia sinema, representasi tentang Tionghoa-Muslim memang belum terlalu banyak, namun sejumlah film Indonesia telah berupaya menampilkan kompleksitas identitas ini secara humanis dan reflektif. Melalui film, penonton diajak memahami bahwa identitas bukan sekadar label, melainkan perjalanan batin, sejarah, dan negosiasi sosial yang terus berlangsung.
Salah satu film yang dapat menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika identitas Tionghoa di Indonesia adalah Ca-bau-kan karya Nia Dinata. Berlatar masa kolonial, film ini memang tidak secara khusus mengangkat tokoh Tionghoa-Muslim, tetapi memperlihatkan kompleksitas kehidupan komunitas Tionghoa dalam relasinya dengan budaya lokal dan kekuasaan kolonial. Melalui kisah cinta dan pergulatan sosial para tokohnya, penonton diajak melihat bagaimana identitas etnis Tionghoa berinteraksi dengan realitas Indonesia yang majemuk. Film ini penting sebagai konteks historis untuk memahami bagaimana identitas Tionghoa berkembang, termasuk ketika sebagian anggotanya memilih atau telah lama memeluk Islam.
Rekomendasi berikutnya adalah Tanda Tanya (?), juga disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini secara eksplisit mengangkat tema pluralisme agama dan kehidupan antarumat beragama di Indonesia. Salah satu karakter kuncinya adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang beragama Katolik dan menjalin relasi dengan komunitas Muslim di sekitarnya. Walau tidak secara langsung berfokus pada Tionghoa-Muslim, film ini menampilkan interaksi yang hangat sekaligus penuh tantangan antara identitas etnis dan agama. Penonton dapat menangkap pesan bahwa harmoni bukan berarti tanpa konflik, melainkan kemampuan untuk saling memahami dan menghormati perbedaan.
Untuk melihat potret yang lebih intim tentang identitas Tionghoa dalam konteks keislaman, film Kokoh dapat menjadi referensi menarik. Film pendek ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda Tionghoa yang menemukan kedamaian dalam Islam, sekaligus menghadapi penolakan dan kebingungan dari lingkungan sekitarnya. Cerita semacam ini mencerminkan realitas sebagian Tionghoa-Muslim yang harus bernegosiasi antara tradisi keluarga, ekspektasi sosial, dan keyakinan pribadi. Melalui pendekatan yang personal, film ini memperlihatkan bahwa menjadi Tionghoa-Muslim bukanlah identitas yang kontradiktif, melainkan bentuk lain dari keberagaman Indonesia.
Selain itu, film Mencari Hilal juga relevan untuk dibicarakan. Disutradarai oleh Ismail Basbeth, film ini mengisahkan perjalanan ayah dan anak dalam mencari makna religiusitas dan hubungan keluarga. Walaupun tidak secara khusus berfokus pada etnis Tionghoa, film ini menyajikan refleksi mendalam tentang bagaimana identitas keagamaan dijalani dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia yang beragam. Dalam konteks Tionghoa-Muslim, film ini membantu memperluas pemahaman bahwa pengalaman beragama selalu dipengaruhi latar budaya dan relasi sosial yang melingkupinya.
Representasi Tionghoa dalam film Indonesia juga dapat ditemukan dalam Ngenest karya Ernest Prakasa. Film ini mengangkat pengalaman diskriminasi yang dialami seorang pria Tionghoa sejak kecil hingga dewasa. Meski tidak menampilkan tema Tionghoa-Muslim secara langsung, film ini penting karena membongkar stereotip dan prasangka terhadap etnis Tionghoa. Bagi penonton yang ingin memahami latar sosial yang sering dihadapi komunitas Tionghoa termasuk mereka yang Muslim film ini memberikan perspektif yang jujur dan reflektif. Dari sini, kita dapat melihat bahwa tantangan identitas sering kali berlapis: etnis, agama, dan kebangsaan saling bertautan.
Melalui rekomendasi film-film tersebut, terlihat bahwa sinema Indonesia mulai memberi ruang bagi narasi keberagaman yang lebih inklusif. Meskipun belum banyak film arus utama yang secara spesifik menyoroti kehidupan Tionghoa-Muslim, benang merah tentang pluralisme, toleransi, dan pencarian identitas sudah cukup kuat. Film menjadi medium yang efektif untuk membangun empati, karena ia menghadirkan pengalaman manusia secara konkret melalui karakter, dialog, dan konflik yang terasa dekat.
Harmoni keberagaman bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang dialog, pengakuan, dan penerimaan. Dalam konteks Tionghoa-Muslim, harmoni itu tampak dalam praktik keseharian: merayakan tradisi Imlek sekaligus Idulfitri, menjaga hubungan kekerabatan lintas agama, serta berkontribusi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Sinema, dengan segala kekuatannya sebagai media cerita, mampu merekam sekaligus mempengaruhi cara pandang publik terhadap identitas semacam ini.
Akhirnya, menonton film-film bertema Tionghoa dan keberagaman agama bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan juga langkah kecil untuk memperluas wawasan. Dari layar lebar, kita belajar bahwa identitas tidak harus dipertentangkan. Justru dalam pertemuan berbagai latar belakang Tionghoa dan Muslim, tradisi dan modernitas, minoritas dan mayoritas kita menemukan wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, dinamis, dan terus berproses menuju harmoni.